Tag Archives: TOMAT

MENGENDALIKAN LAYU FUSARIUM PADA TOMAT,CABE dan KENTANG

Penyakit layu pada tanaman yang paling sering terjadi adalah akibat serangan jamur atau akibat bakteri. Hanya pada umumnya petani kita suka salah kaprah dalam menganalisa dan pemberian langkah pengendaliannya. Menurut hasil pengamatan kami dilapangan yang paling sering terjadi adalah akibat serangan jamur/cendawan Fusarium sp.

Gejala awal penyakit layu Fusarium tomat berupa pucatnya tulang daun, terutama daun sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai, dan akhirnya tanaman menjadi layu secara keseluruhan. Seringkali kelayuan didahului dengan menguningnya daun, terutama daun bagian bawah. Kelayuan dapat terjadi sepihak. Pada batang kadang terbentuk akar adventif. Pada tanaman yang masih muda dapat menyebabkan matinya tanaman secara mendadak karena pada pangkal batang terjadi kerusakan (Semangun, 2002).
Cara paling mudah dan sederhana untuk membedakan antara kedua mikroorganisme penyebab layu,yaitu dengan cara memotong secara melintang batang tanaman (tomat,cabe,atau kentang). Batang tanaman yang layu,apabila dipotong melintang terdapat warna coklat kehitaman ,maka dugaan besar,tanaman terserang oleh cendawan/jamur Fusarium sp. Untuk lebih meyakinkan lagi,rendamlah batang tanaman tersebut,pada botol plastik yang diisi air,apabila dalam tempo satu malam,tidak keluar cairan seperti lendir,maka sudah bisa dipastikan bahwa tanaman terkena layu akibat,JAMUR. Namun ,Apabila dari batang tersebut keluar eksudat lendir,maka bisa dipastikan bahwa tanaman terserang BAKTERI, Pseudomonas sp.
Menurut pengamatan kami,justru kesalahan terbesar dalam praktek budidaya petani kita adalah,pemberian obat bukan pada sasarannya. Kami ungkap diatas sebagai tindakan pengendalian yang salah kaprah,karena penyakit layu akibat jamur,tetapi diberi “obat” untuk layu bakteri. Padahal saat ini sebagian besar petani memberikan bakterisida pada tanaman yang terkena layu. Efek dari pemberian bakterisida ini,selain penyakit LAYU nya tetap tak terkendalikan juga pemberian bakterisida terus menerus,bisa menyebabkan musnahnya bakteri-bakteri didalam tanah,bukan saja hanya bakteri yang merugikan tetapi bakteri-bakteri yang menguntungkan,seperti bakteri pengurai ikut mati.
Banyaknya kasus LAYU tanaman yang terjadi,menggugah kita untuk,secara aktif melakukan uji coba pada berbagai tanaman hortikultura,seperti pada Tomat,Cabe dan Kentang.
A.1. Gambar diatas ini kami ambil,pada saat uji terap kami di daerah Cibuluh, Cikajang, Garut.
Dalam hal ini,uji terap yang kami lakukan adalah diantaranya uji terap perihal pengendalian Layu.
Tampak tanaman tomat ditumpangsarikan dengan Petcay,sebagai patokan kami ambil berupa,pohon besar yang terpisah sendiri.
A.2.Selanjutnya, tanaman kami pantau lagi . Hasilnya seperti nampak pada gambar diatas.
A.3. Pada saat tanaman sudah berbuah,terlihat buah bagian atas,tampak besarnya hampir sama dengan buah bagian bawah (bisa dilihat pada foto dibawah ini). Lokasi tidak berpindah,pengambilan gambar masih tetap dalam sudut yang sama.
A.3. Pada saat yang bersamaan kami mengambil gambar dibagian bawah,tanaman. Tampak tanaman sehat,daun tebal kebiru-biruan. Pada uji terap ini kami,secara khusus melakukan penelitian untuk mengendalikan penyakit Layu.
Adapun langkah- langkah yang kami lakukan adalah sbb:
Mengacu dari beberapa hasil penelitian tentang Layu fusarium,hasilnya antara lain,
Perkembangan F. oxysporum sangat sesuai pada tanah dengan kisaran pH 4,5-6,0. pH optimum untuk pensporaan sekitar 5,0, pensporaan yang terjadi pada tanah dengan pH di bawah 7,0 adalah 5-20 kali lebih besar dibandingkan dengan tanah yang mempunyai pH di atas 7,0 (Sastrahidayat, 1990). Pada pH di bawah 7,0 pensporaan terjadi secara melimpah pada semua jenis tanah, tetapi tidak akan terjadi pada pH di bawah 3,6 atau di atas 8,8. Suhu optimum untuk pertumbuhan jamur F. oxysporum adalah 20-300C, maksimum pada suhu 370C atau di bawahnya, sedangkan suhu optimum untuk pensporaan adalah 20-250C (Domsch et al., 1993).
Keterangan diatas berdasarkan bahasa “sekolahan”,kami terbiasa dengan bahasa petani saja,yaitu bahwa PADA TANAH YANG ASAM,JAMUR AKAN BERKEMBANG. Hal ini biasa kita analogikakan (dipersamakan) dengan contoh antara lain, Nasi,Roti atau sayur yang sudah “MASAM”,biasanya akan “JAMURAN”.
Nah… demikian juga dengan Tanah yang Asam, tentunya akan mendukung akan tumbuhnya Jamur…
Pada praktek sehari- hari,entah sadar atau tidak,justru petani mengkondisikan agar tanahnya makin Masam. Pemberian pupuk dasar kimia yang banyak,plus ditambah lagi pemberian pupuk susulan,makin mendukung agar tanah makin Masam. Makanya tidak heran apabila gejala layu,justru tampak setelah pemberian PUPUK SUSULAN (pupuk kimia).
Menyimak dari keterangan diatas,kami dari PT.KEMBANG LANGIT ,mempunyai tehnik untuk mengendalikan penyakit ini adalah:
1. Waspadai pemberian PUPUK KIMIA,yang cenderung bersifat ASAM.
2. Netralisir keasaman tanah dengan kapur. Secara khusus kami biasa menggunakan PUPUK CAS (yang berfungsi “Ngecas” lagi tanah- tanah yang sudah “lowbat”,akibat tidak hentinya penggunaan pupuk kimia)

3. Pemberian secara khusus GULA PATI (GLUKOSE) yang bersumber dari tanaman. . Dalam hal ini,kami menggunakan gula glokose dari PROTEK-tan (Proses nya secara hydrolisis pati dengan metode enzimatis). Pemberian PROTEK-tan ini kami lakukan secara di corkan.

Pemberian unsur garam,terkadang bisa jadi sangat diperlukan. Hanya saran kami pemberian “garam” harus terkontrol, sebab ” garam” yang terlalu tinggi dan pemberian secara terus menerus,bisa berakibat terjadinya kerusakan tanah ,karena mikroorganisme yang ada dalam tanah tidak berkembang. Contoh mudahnya adalah,ikan yang telah digarami (ikan asin)akan bisa disimpan dalam waktu yang lama,dengan kata lain menjadi awet,karena mikroorganisme (jamur dan bakteri) pada ikan menjadi tidak berkembang,setelah pemberian garam tersebut.
Langkah-langkah pengendalian diatas bukan tanpa alasan,kami melakukannya dalam riset yang cukup panjang. Kami mengibaratkannya dengan buah kedondong/buah mangga muda yang sangat asam,kalau dimakan langsung mungkin kita tidak mau,tetapi kalau kita buat MANISAN/ASINAN (kata orang bogor ) terlebih dulu,rasanya menjadi segar dan nikmat.
Sedangkan proses buah yang rasanya asam,agar menjadi segar dan enak,adalah dengan memberikan GULA,GARAM DAN SEDIKIT KAPUR (dan bumbu-bumbu lain tentunya) atau dengan kata lain dibuat ASINAN/MANISAN.
Hal ini kami lakukan juga pada TANAH YANG ASAM, kami berikan PUPUK CAS, plus Gula/Glukosa dari pati tanaman (PROTEK-tan), dan pemberian kadar unsur Garam sedikit saja…Jadi deh,tanah asam menjadi “tanah manisan/asinan”. Jadi tidak perlu lagi Bakterisida ,yang selain salah kaprah ,…harganya mahal …dan dalam jangka waktu panjang akan merusak mikroorganisme tanah.

Berikutnya,uji terap kami lakukan pada tanaman kentang dan cabe,untuk mengendalikan Layu Fusarium
B.1. Uji terap ini kami lakukan di Kec. Pasirwangi, Darajat ,Kab Garut- Jawa Barat
Tanaman kentang Var. Granola usia sekitar 70 harian, daun tampak hijau kebiruan (ciri tanaman sehat)
B.2. Pengamatan selanjutnya kami lakukan lagi ,pada saat tanaman beberapa hari menjelang panen (usia lebih dari 90 hari),tampak ditengah-tengah lokasi penanaman kentang ada “saung”/gubug jaga,yang baru dibuat,khusus mengantisipasi hilangnya kentang dari tangan- tangan usil.
Walaupun tanaman sudah siap panen,namun kondisi tanaman tampak sehat,dan yang terpenting terhindar dari KELAYUAN. Pemberian PROTEK-tan dan PUPUK CAS,ternyata efektif untuk mengendalikan penyakit tersebut.
Selanjutnya kami uji terapkan pada tanaman cabe keriting
C.1. Tanaman ini sudah berulang-ulang dipanen,dan yang kami syukuri adalah tanaman terhindar dari LAYU FUSARIUM,langkah-langkah pengendalian telah kami kemukakan diatas.
C.2. Dalam uji terap ini,sengaja kami tidak melakukan pemangkasan cabang-cabang tanaman,tetapi cabang-cabang sengaja kami pelihara. Anggapan sementara ini,adalah apabila tanaman tidak dibuang cabangnya,maka buah pada tunas- tunas ujung dan pada cabang ,tidak akan besar.
Dalam uji terap ini ternyata,hasilnya bisa anda lihat sendiri,buah pada cabang paling bawah sekalipun,tampak tumbuh subur,berbuah lebat dan ukuran buah tetap normal.
D.1.Tampak pada gambar,buah pada cabang paling bawah sekalipun,jumlahnya banyak,setiap tangkai kisaran 7-9 buah. Jadi sayang kan kalau dibuang (di wiwil/jawa,disirung/sunda). Penekanan kami dalam hal ini adalah untuk mendapatkan hasil yang optimal adalah mengatur pola pupuk/makan. Jangan juga makan terlalu banyak,apalagi over pupuk kimia,bukannya berbuah lebat tetapi malahan timbul penyakit Layu.

MENGATASI KUTU KEBUL,PADA TOMAT DAN MENTIMUN

Hasil aplikasi pada tanaman Tomat dan Mentimun,hasilnya bisa dilihat pada gambar-gambar dibawah ini.
Daun kebiru-biruan,tebal,lentur dan Buah yang lebat
Salah satu hama utama yang menyerang Tomat dan Mentimun adalah
Kutu kebul/kutu putih/Bemisia tabaci, yang termasuk hama tanaman yang “bandel”
Beberapa janis Insektisida kimia yang digunakan pada umumnya,hama tersebut,masih saja beterbangan
Memang pada saat disemprot,hama tersebut “pergi” untuk sementara waktu,tetapi setelah itu datang lagi
Tehnologi yang kami kembangkan,dengan sistem REPELLEN (Penolakan hama) dan ANTIFEEDEN(hama tidak mau makan),ternyata efektif untuk mengatasi hama jenis ini
Hasil aplikasi PROTEK-tan dan PESNATOR ,dengan dosis masing masing 3 tutup per tangki 17 liter
hasilnya,bisa dilihat pada tanaman Tomat,diatas.

Hasil pantauan kami pada tanggal 22 Agustus2011,hasilnya daun lebar-lebar,tebal dan bebas serangan hama
kutu kebul.

Selain pada tomat,kutu kebul juga biasanya menyerang tanaman Mentimun,serangan yang berat biasanya
menyebabkan daun menjadi kering
Namun pada tanaman ini,nampak segar bugar,tidak terserang hama kutu kebul
Bunga yang lebat ini,hasil aplikasi PROTEK-tan dan PESNATOR,tanpa menggunakan
PUPUK DAUN,PUPUK BUNGA,ZPT/HORMON PERTUMBUHAN dan TANPA PEREKAT LAGI
Selain itu,ada satu jenis hama lagi yang cukup menggangu yang biasa menyerang tanaman mentimun,yaitu
PENGGOROK DAUN/Lyriomyza sp.Hama ini menyerang dan membentuk garis-garis seperti” jalan”
Hama jenis ini,karena menggorok didalam daun,umumnya sulit dikendalikan bila dengan sistem kimia
karena larva hama berada didalam daun.Sedangkan dengan sistem PENOLAKAN dan ANTIFEEDEN
TERNYATA HAMA SEJAK AWAL DIKONDISIKAN TIDAK MAU HINGGAP
BAGAIMANA SIMPEL KAN ???
PERTANIAN ORGANIK SUATU KEHARUSAN BUKAN PILIHAN !!!

PENGENDALIAN CABE PATEK SEKALIGUS PECAH BATANG PADA TOMAT

 Kali ini kami tampilkan,hasil uji terap untuk mengatasi CABE PATEK sekaligus mengatasi PECAH BATANG TOMAT.  Dua tehnik pengendalian ini kami bahas sekaligus,karena penyebabnya hampir sama,yaitu TIPIS NYA”KULIT”,TIPIS KULIT BUAH PADA CABE DAN TIPIS KULIT BATANG PADA TOMAT.  Bisa anda perhatikan,  buah cabe yang terserang patek !!!
Apakah yang tipis atau yang tebal? Apa yang kadar airnya tinggi atau yang padat berisi? Demikian juga pada batang Tomat. Tipis ,kadar air tinggi atau Tebal dan Padat berisi yang mudah terkena penyakit FISIOLOGIS PECAH BATANG?
Terlalu banyak,iklan FUNGISIDA yang menawarkan mampu UNTUK MENGATASI penyakit CABE PATEK,tetapi pada kenyataannya… ,FAKTANYA BILA TERLALU MENGANDALKAN FUNGISIDA UNTUK MENGENDALIKAN PATEK,HASILNYA SIAP-SIAP SAJA UNTUK KECEWA… KAWAN…
Uraian berikutnya,kami utarakan sampil melihat lihat hasil,yang telah dan sedang berlangsung sampai saat ini, September 2011.  Sambil memaparkan METODE hasil-hasil APLIKASI,kami menyertakan Foto /Gambar,karena kami menyadari teori -teori yang kami kemukakan,agak berbeda,dengan teori-teori yang ada selama ini.  Seperti contoh,kami sangat tidak setuju dengan POLA BUDIDAYA TANAMAN YANG WAKTU PEMUPUKAN DAN JENIS PUPUK YANG SUDAH DITETAPKAN SEJAK AWAL ,BERDASARKAN ”SOP”/STANDAR OPERATIONAL PROSEDURE.Hal ini kami paparkan lebih jauh dalam kembanglangit1.blogspot.com
A.1.Kami mamantau,dua jenis tanaman yang ditumpangsarikan antara CABE dan TOMAT

Pemantauan kami lakukan sejak tanaman ,kecil…beberapa hari setelah pindah tanam.

Sebagai panduan pengamatan,bahwa kami tidak berpindah lokasi adalah , di latar belakang tanaman,adanya tanah/tebing yang berbentuk ,undakan-undakan.

A.2. Pengamatan kedua,kami lakukan tanggal 18 Agustus 2011.
Tehnik yang kami terapkan yaitu meminimalkan penggunaan PUPUK KIMIA,jangan sampai over dosis,terutama yang mengandung NITROGEN TINGGI (dosisnya tidak lebih dari 3 kg)
A.3.Pengamatan ketiga tanggal 23 Agustus 2011
Untuk mengoptimalkan daya kerja pupuk kimia (dosisnya tidak terlalu banyak, yang penting terserap oleh tanaman) kami mencampurkanPUPUK KIMIA NPK ,dengan PROTEK-tan,untuk dicorkan.
A.4.Pengamatan ke 4,dilakukan pada tanggal 8 Sep 2011.
Kami upayakan betul tanaman jangan sampai terkena keriting daun (seperti yang sudah kami paparkan,dibagian lain blog kami,efek keriting daun pada timbulnya penyakit PATEK)
Tehnik yang kami terapkan untuk menghindari serangan hama trips dan tungau adalah,dengan menyemprotkan PROTEK-tan. Dosis yang kami gunakan adalah 3 cc per liter air
A.5.Pengamatan ke 5,dilakukan pada tanggal 28 Sep 2011
Masalah hama dan penyakit Cabe dan tomat,cukup kompleks,diantaranya,pada saat sudah berbuah begini adalah serangan LALAT BUAH (Dacus sp),untuk mengantisipasinya sejak awal (pada saat tanaman mulai berbunga)kami menggunakan PESNATOR (yang merupakan INSEKTISIDA ALAMI,yang daya kerjanya ,hama TIDAK MAU MAKAN DAN TIDAK PULA MAU MELETAKKAN TELURNYA)
B.1. Pada saat tanaman Cabe maupun Tomat mulai berbuah,saatnya kita untuk mulai ekstra hati-hati dalam pemberian pupuk “GAS”,yang menyebabkan KULIT MENIPIS
Caranya yaitu dengan membatasi pemberian unsur Gas NITROGEN
B.2.Kami mulai mengupayakan ‘TEBALNYA’ KULIT BUAH CABE  dan TEBALNYA KULIT BATANG TOMAT
B.3.Pada saat kondisi tanaman demikian kami,melakukan penyemprotan dengan POCAniL
(KAMI MENYEBUTNYA AKTIVATOR FUNGISIDA,bukan FUNGISIDA) 
Mungkin anda berpendapat,fungisida saja kurang mampu mengendalikan PATEK,koq ini hanya bersifat AKTIVATOR /LEBIH MENGAKTIFKAN/MENGUATKAN DAYA KERJA dari suatu fungisida, mengklaim,bisa untuk mengendalikan PATEK… 

C.1.Pengamatan yang dilakukan pada tanggal 28 Sep 2011,dari sudut pengambilan yang lain
Buah cabe dan tomat,mulai terlihat lebat. Gambar/foto C.1-C.5.

C.2.Penjelasan lebih rinci nya demikian,selain kulit buah yang tipis,pernahkan anda perhatikan,pada daun tanaman? Bisa dibandingkan Apakah daun yang tipis kekuning-kuningan atau daun yang tebal kebiru-biruan yang mudah terserang penyakit?

C.3.Jawabannya,jelas… Daun yang tebal,kebiru-biruan dan lentur lebih tahan penyakit dibandingkan tanaman yang memiliki karekteristik daun tipis,kekuning kuningan dan rapuh. 
Nah kalau kita menganalisanya dari faktor DAYA TAHAN demikian,jelas bahwa walaupun fungisida sangat baik daya kerjanya dan mahal harganya,apabila kondisi tanaman rapuh,seperti ciri-ciri tanaman yang telah kami ungkap tadi,efektifitas dari fungisida tidak optimal.

C.4.Sebagai ilustrasi lainnya,bisa kami kemukakan sebagai berikut,apabila kondisi anda sehat,apa anda perlu OBAT,contoh misalnya seperti BODREK,PARAMEK ATAU INZA?

C.5. Kondisi tanaman seperti ini,bisa kita katakan sehat,dengan ciri-ciri yang seperti kami kemukakan (Daun biru,tebal dan Lentur). Kalau sudah sehat,niscaya kebutuhan “obat” /PESTISIDA,tidak terlalu banyak,kalau perlu tidak sama sekali.
Produk yang kami gunakan untuk mendapatkan kondisi SEHAT,tersebut adalah POCAniL.
Kondisi sehat yang dicapai,memyebabkan kita hanya perlu sedikit fungisida(petani menyebutnya “obat”) untuk mengendalikan
PENYAKIT PATEK…  

Top